MAKNA KALIMAT TAUHID (LAA ILAAHA ILLALLAH) - Bagian 02 -

MAKNA KALIMAT TAUHID (LAA ILAAHA ILLALLAH) - Bagian 02 -

Oleh: Ustadz Fauzan Abu Muhammad Al Kutawy hafizhahullah




Dari penjelasan yang telah lalu, maka para ulama menyimpulkan bahwasanya didalam kalimat tauhid terdapat 2 rukun :



1. An-Nafyu  (Peniadaan)

Yaitu yang terdapat pada kalimat kalimat لَا إلٰه (Tiada sesembahan).



Maknanya yaitu seseorang yang telah menetapkan atau mengikrarkan La Ilaaha Illallah harus mengingkari seluruh bentuk sesembahan dan peribadahan apapun bentuknya dari selain Allah, baik manusia, benda mati, orang shalih, nabi ,malaikat dan lain-lain.



Maka tidak ada sama sekali sesembahan dalam bentuk apapun juga yang berhak untuk di ibadahi.



2. Al- Itsbat (  Penetapan)

Yaitu pada kalimat إِلَّا اللّهُ ( kecuali Allah).



Maknanya yaitu seseorang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah harus mengakui dan menetapkan satu-satunya yang berhak dijadikan sesembahan adalah Allah subhanahu wa ta’ala.



Maka ketika seseorang telah meninggalkan seluruh ibadah  kepada selain Allah ,namun dia tidak beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata maka dia belum merealisasikan dari makna Laa Ilaaha Illallah.



Dua  rukun ini telah disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dalam firman- Nya:



فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ



“Maka barangsiapa yang ingkar/kufur terhadap thogut dan beriman kepada Allah maka sungguh dia telah berpegang teguh dengan tali yang sangat kuat.” [QS.  Al Baqarah: 256].



Thogut adalah segala sesembahan selain Allah, sedangkan ikatan yang kuat adalah Laa Ilaaha Illallah.

Sehingga siapa yang mengingkari semua bentuk sesembahan dan hanya mengakui bahwa Allah subhanahu wa ta'ala semata yang berhak untuk  di sembah berarti dia telah merealisasikan  ayat ini dan mengikrarkan Laa Ilaaha Illallah dengan  benar.



Allah subhanahu wa ta'ala juga berfirman:



وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئً



"Dan sembahlah Allah semata dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun juga." [QS. An Nisa’: 36].



Ayat ini dan yang semisalnya juga menunjukkan makna yang benar  dari kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah yaitu menetapkan peribadahan hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata dan menafikan/ meniadakan seluruh peribadatan kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala.



Dengan mengetahui makna inilah, maka orang-orang kafir Quraisy menolak seruan Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan terang-terangan ketika Beliau menyeru mereka untuk mengikrarkan Laa Ilaaha Illallah (kalimat tauhid) ini.



Allah subhanahu wa ta’ala hikayatkan dalam Alqur’an, Allah berfirman: 



إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ (٣٥ ) وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ ( ٣٦ )



“Sesungguhnya mereka jika dikatakan kepada mereka Laa Ilaaha Illallah maka merekapun menyombongkan diri dan mereka mengatakan; Apakah kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami disebabkan oleh seorang penyair yang gila.”  [QS. Shaaffat: 35- 36].



Disebabkan karena mereka mengetahui makna kalimat ini yaitu; keharusan untuk meninggalkan sembahan-sembahan selain Allah inilah maka mereka pun menolak ajakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan mereka menentang dakwah Nabi shallallahu alaihi wasallam.



Oleh sebab itulah  ketika ada seseorang yang dia  mengucapkan Laa Ilaaha Illallah namun dia masih mendatangi  kuburan dan mengagungkannya, meminta rezeki kepada selain Allah, beribadah kepada selain Allah, menyembelih kepada selain Allah, bernazar kepada selain Allah ,  maka pada hakikat nya dia belum merealisasikan makna dari kalimat  Laa Ilaaha Illallah.



Oleh sebab itulah makna yang benar pada kalimat Laa Ilaaha Illallaah ini adalah:



لَا مَعْبُوْدَ بِحَقِّ إِلَا اللّهُ



"Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah".





Bersambung...

No comments: