Larangan Menyampaikan Hadits/Berita Tanpa Memperjelas Kebenaran Hadits/Berita Tersebut

Larangan Menyampaikan Hadits/Berita Tanpa Memperjelas Kebenaran Hadits/Berita Tersebut


Tidaklah dibenarkan secara syar'i untuk menyebarkan hadits-hadits yang disandarkan kepada Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam- tanpa memperjelas tentang keshahihan penyandaran hadits tersebut kepada Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam-, apalagi menyebarkan hadits-hadits dusta dan lemah, walaupun engkau tidak melakukannya namun menyampaikan hadits tersebut sudah merupakan kekejian yang diancam dalam syariat kita.

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam- bersabda ;

من حدّث عنّي بحديث يُرى أنه كذب فهو أحد الكاذِبيِن

"Barangsiapa yang menyampaikan suatu hadits dariku yang dia memandang kedustaan padanya maka ia termasuk salah satu dari para pendusta".
[HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahihnya (1/9)]

Dan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda ;

كفى بالمرأ كذباً أن يُحدّث بكل ما سمع

"Cukuplah seseorang dikatakan sebagai seorang pendusta tatkala ia menyampaikan setiap perkara yang ia dengar (tanpa memperjelas.pent)".
[HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahihnya (1/11)]

Berkata Imam Malik -rahimahullah- ;

اعلم أنه ليس يَسلم رجلٌ حدّث بكل ما سمع، ولا يكون إماماً أبداً وهو يحدّث بكل ما سمع

"Ketahuilah bahwasanya tidaklah akan selamat seseorang yang menceritakan setiap perkara yang ia dengar, dan tidak pula akan menjadi seorang panutan sampai kapanpun seorang yang menceritakan setiap yang ia dengar".
[Riwayat Muslim dalam Muqaddimah Shahihnya (1/11)].

Dan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam- bersabda;

من كذب عليّ متعمداً فليتبوأ مقعده من النار

"Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya di neraka".
[Muttafaqun 'alaih].

Dan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam- bersabda;

يكون في آخر الزمان دجالون كذابون يأتونكم من الأحاديث بما لم تسمعوا أنتم ولا آباؤكم فإياكم وإياهم لا يضلونكم ولا يفتنوكم

" Akan ada pada akhir zaman para Dajjal pendusta yang mereka mendatangkan kepada kalian hadits-hadits yang tidak pernah kalian dengar dan juga tidak pernah didengar oleh bapak-bapak kalian, maka hati-hatilah terhadap mereka, jangan sampai mereka menyesatkan dan membuat kalian terfitnah".
[HR. Muslim (1/12)]

Adalah para sahabat radhiyallahu 'anhum sangat berhati-hati dan benar-benar tatsabbut (mengecek) suatu berita, hingga tidaklah mereka menyampaikan sebuah hadits kecuali setelah mengecek dan memperjelas nya, sampai diantara mereka rela untuk melakukan rihlah (perjalanan jauh) hanya untuk mengecek kebenaran satu hadits Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam-.

Berkata 'Abdurrahman bin Abi Laila rahimahullah-;

لقد أدركت في هذا المسجد عشرين ومئة من الأنصار، وما منهم من أحدٍ يُحدّث بحديث إلا وَدَّ أن أخاه كفاه الحديث، ولا يُسأل عن فُتيا إلا وَدَّ أن أخاه كفاه الفُتيا

"Sungguh aku telah mendapati dimasjid ini sekitar seratus dua puluh sahabat dari kalangan Anshar, dan tak seorangpun diantara mereka menyampaikan sebuah hadits kecuali ia berharap saudaranya lah yang menyampaikan hadits tersebut, dan tidaklah ditanya tentang suatu fatwa kecuali ia berharap saudaranya yang mencukupi memberikan fatwa tersebut".
[Riwayat Ad Darimi (137)].

Demikianlah kondisi para salaf yang memiliki keberhati-hatian yang sangat dalam menyampaikan sebuah berita/hadits, dan hal tersebut sangatlah berbeda dengan kondisi kita saat ini. Wa Ilallahil Musytaka.

Berkata Asy Syeikh Al 'Utsaimin rahimahullah-;

يوجد الآن أحياناً منشورات تتضمن أحاديث ضعيفة وقصصاً لا أصل لها، ثم تنشر بين العامة، وإني أقول لمن نشرها أو أعان على نشرها إنه آثمٌ بذلك، حيث يُضل عن سبيل الله، يضل عباد الله بهذه الأحاديث المكذوبة الموضوعة، أحياناً يكون الحديث موضوعاً ليس ضعيفاً فقط، ثم تجد بعض الجهال يريدون الخير، فيظنون أن نشر هذا من الأشياء التي تحذر الناس وتخوفهم مما جاء فيه من التحذير أو التخويف، وهو لا يدري أن الأمر خطير، وأن تخويف الناس بما لا أصل له حرام؛ لأنه من الترويع بلا حق....الخ.

"Saat ini kadang didapati buletin-buletin yang menampilkan hadits-hadits lemah dan kisah-kisah yang tidak ada asalnya dan menyebarkannya k
e khalayak umum, maka aku katakan kepada orang yang menyebarkan dan membantu penyebarannya  bahwa dia telah melakukan dosa dengan hal tersebut, karena telah menyesatkan manusia dari jalan Allah, dia menyesatkan hamba-hamba Allah dengan hadits-hadits dusta dan palsu tersebut.
Kadang-kadang ada hadits yang palsu dan bukan sekedar dhaif (lemah) kemudian engkau dapati orang-orang bodoh itu menginginkan kebaikan, dan mereka menyangka bahwa dengan menyebarkan hadits-hadits palsu tersebut merupakan perkara yang membuat manusia mengambil peringatan dan takut, dan dia tidak mengetahui bahwa hal tersebut adalah perkara yang berbahaya, karena memperingatkan manusia dengan perkara tanpa dasar adalah keharaman karena terdapat bentuk mengagetkan manusia tanpa hak...dst".

[Fatawa Nurun 'Alad Darb]

Wallahu a'lam.

Ustadz Fauzan Abu Muhammad Al Kutawy hafizhahullah